ANGIN berembus kencang saat kami baru saja tiba di Pantai Sari Ringgung, kedatangan
kami pun tak hanya disambut oleh embusan angin akan tetapi juga terik matahari
yang cukup menyengat. Yah memang kami datang masih sangat terlalu siang.
Keputusan
itu memang diambil agar kami memiliki banyak waktu untuk menikmati suasana pantai yang sangat jarang
sekali bisa kami nikmati. Maklum, di Sumatera Selatan tidak ada pantai yang
bisa dikunjungi dan dijadikan tempat wisata yang aman dan nyaman.
Walaupun
pada nyatanya ada sebuah pulau yang terdapat pantainya di kawasan terluar
provinsi Sumatera Selatan, tepatnya Pulau Maspari di Kabupaten Ogan Komering
Ilir. Tapi, jangan berharap bisa ke sana dengan cara mudah, sebab jarak yang
jauh serta minimnya fasilitas pendukung menyulitkan semua orang untuk bisa ke
Pulau Maspari.
Sehingga
kebanyakan orang sumatera selatan untuk bisa menikmati wisata pantai hanya ada
dua pilihan pergi ke Lampung atau ke Bengkulu dua provinsi terdekat Sumatera Selatan
yang memiliki pantai yang indah-indah.
Perjalan
kala itu sebenarnya bukan hanya semata ingin perjalanan menikmati pantai, tapi
lebih dari itu, pada ahad 23 Februari
2020 telah terlaksana seminar kepenulisan dalam rangka hari jadi Forum Lingkar
Pena yang ke 23 tahun, kebetulan Bandar Lampung menjadi tuan rumah untuk
pelaksanaan hari jadi FLP, sebuah rumah besar bagi kami yang ingin terus
belajar menulis.
Sekali
lagi, karena kami tetangga terdekat dengan Lampung yang memiliki masa yang
cukup banyak, maka kami juga punya kewajiban untuk meramaikan dan menyukseskan perhelatan akbar hari jadi FLP tahun ini.
Tapi saya tidak akan membahas itu lebih dalam.
Pantai
Sari Ringgung, pantai ini sudah tidak asing ditelingga saya, ditahun sebelumnya
saya pernah berkunjung ke salah satu pantai di kawasan Kabupaten Pesawaran
tersebut yakni ke Pantai Klara. Letak geografisnya lebih jauh ketimbang Pantai
Sari Ringgung walaupun masih satu arah.
Mungkin
sudah rejekinya di tahun ini untuk bisa menikmati suasana Pantai Sari Ringgung
bersama kawan-kawan satu organisasi. Pada malamnya saya dipinta untuk
mengendarai mobil sewaan, dengan alasan agar biaya transfortasi lebih hemat
daripada harus menggunakan jasa transfortasi online.
Sebuah
tawaran yang cukup mengejutkan bagi saya, maklum memang saya bisa mengendarai
mobil, tapi untuk mengendari mobil di kota orang saya masih sangat minim
pengalaman. Dengan mengucap bismillah, saya menerima tawaran tersebut.
Keesokan
harinya, kami menemui pemilik mobil terus melanjutkan perjalanan untuk menjemput
kawan-kawan lain di penginapan yang terpisah dari kami. Destinasi pertama yang
kami kunjungi di pagi itu adalah Bukit Sakura, maklum katanya tempat itu lagi
nge-hits.
Sempat
mengalami salah jalan, yang hampir mengabiskan waktu satu jam untuk sampai ke
Bukit Sakura, yang ternyata letaknya
melewati perkampungan di Bandar Lampung. Di Gerbang Bukit Sakura kami di sambut
oleh payung berwarna-warni, memberikan nuansa keceriaan untuk siapapun yang
datang ke sana. Di Bukit Sakura kami
tidak mau terlalu lama-lama setelah cukup lama menikmati suasana bukit dengan
nuansa Jepang tersebut dan berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke
destinasi berikutnya.
Destinasi
itu adalah Villa Gardenia, lokasinya satu arah dengan Pantai Sari Ringgung
namun lebih dekat dengan kota Bandar Lampung. Sebenarnya destinasi ini tak jauh
berbeda dengan Bukit Sakura tersebut, wisata perbukitan, tapi yang membedakan
Villa Gardenia menyuguhkan view laut
dan gugusan pulau yang cantik, namun sayangnya saat kami ke sana, semua
fasilitas sudah banyak yang rusak dan tidak terawat lagi.
Setelah
cukup menghabiskan waktu di sana, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi
utama kami, yups Pantai Sari Ringgung. Setelah memasuki gerbang utama untuk
membeli karcis, hamparan pasir putih mulai terlihat, berjejer warung dan
saung-saung menghadap ke laut, pantai yang bersih dengan hamparan pasir putih
yang luas serta riak laut membiru yang tenang menambah menjadi suguhan yang
bisa kami nikmati.
Untuk
pertama kalinya ke sini, saya coba mambandingkan dengan pantai Klara yang
pernah saya kunjungi sebelumnya, dari segi luas hamparan pasirnya, pantai Sari
Ringgung memang lebih luas, riak ombak tak jauh beda, sama-sama laut tenang, namun
di Klara kita bisa mandi sambil melihat beberapa ikan laut yang indah, tapi
karang di Pantai Klara jauh lebih banyak sehingga untuk berengan di sana kita
harus hati-hati sekali, terutama telapak kaki dan dengkul yang kerap sekali
menjadi sasaran utama.
Sementara
di Sari Ringgung, memang karangnya tak terlalu banyak, tapi tetap berhati-hati
terutama ketika kita sudah berada agak jauh dari bibir pantai. Jika berkunjung
ke pantai tidak menyeburkan diri ke laut itu rasanya ada yang kurang, maka saya
tak bisa menahan diri ketika melihat beberapa kawan yang sudah menikmati air
laut terlebih dahulu. (bersambung ke bagian 2)
sumber foto:
facebook.com/azzuradayanasatu
instagram.com/im.muf






Semoga nanti ada kesempatan untuk singgah ke beberapa tempat wisata di Lampung seperti yang dituliskan. Ditunggu penggalan cerita selanjutnya ka.
Pasti seru tuh. Capek ngurusin acara seakan-akan gak kerasa. Hehe