DENGAN
tergopoh-gopoh saya berjalan di air laut yang kedalamannya semula semata kaki,
terus kian dalam hingga sepaha, dan itu cukup menguras tenaga.
Selain
mandi dan menikmati embusan angin pantai tak banyak yang bisa dilakukan, ada
beberapa spot foto yang bisa kita coba sih diantaranya, ayunan di pantai, serta
ada fasilitas perosotan untuk anak-anak namun sepertinya perosotan itu sudah
kurang terawat, belum lagi kondisi air laut yang sedang dangkal membuat
fasilitias itu kurang yakin aman untuk dipakai mengingat di dasar laut terdapat
batu-batu yang tajam, mungkin saja bisa menyebabkan kaki kita terluka.
Setelah
cukup lama bermain di laut, kami kemutuskan untuk menyudahi perjalanan hari
ini, mengingat hari mulai sore apalah saya dan beberapa kawan dari perjalanan
harus segera ke stasiun tanjung karang untuk pulang ke Prabumulih menggunakan
kereta api limex yang berangkat jam sembilan malam, sementara kawan-kawan lain memutuskan
pulang besok menggunakan kereta pagi.
Di Pantai Sari Ringgung tersedia tempat bilas dan kamar mandi gratis,jika membandingkan dengan Klara untuk ke kamar mandi dan toilet di kenakan biaya. Tapi yang namanua fasilitas gratis agak kurang yakin dengan kenyamanan dan kebersihannya. Jujur saja saya lebih suka menggunakan toilet umum yang berbayar, karena kebersihan dan kenyamanan toilet terjamin, contohnya di Pantai Klara, meskipun berbayar tapi toilet dan kamar mandinya bersih, air berlimpah ruah.
Tapi
keadaan toilet dan kamar mandi di Sari Ringgung sedikit lebih baik dari pada
keadaan toilet dan kamar mandi pantai Embe di Lampung Selatan. walaupun begitu pantai
embe memiliki ombak yang jauh lebih
kuat, jadi jika kalian ingin merasakan bagaimana serunya diterjang serta
diseret ombak datanglah ke pantai Embe, tapi tetap utamakan keselematan yah.
Suasana ombak di Pantai embe sama seperti ombak di Pantai Panjang Bengkulu.
Anginnya kencang dan ombaknya besar.
Setelah semuanya bersiap pulang, terntata perjalanan belum selesai. Masih ada satu destinasi dadakan yang harus kami kunjungi. Yah, nama tempatnya Puncak Indah Pantai Sari Ringgung. Lokasinya di atas sebuah bukit, awalnya saya kurang yakin bisa mengendari mobil naik ke puncak indah tersebut, maklum hal ini karena saya belum pernah membawa mobil dengan medan jalan yang memantang seperti ini. Tanjakannya hampir 45 derajat.
Menyebabkan
detak jantung berpacu lebih kencang dari biasanya, ditambah salah satu
penumpang saya yang memiliki rasa khawatir berlebihan membuat mulutnya tak bisa
diam. Tapi, saya berusaha tenan, karena itu adalah kunci keselamatan yang
dimiliki oleh seorang pengemudi sehingga bisa mengendalikan kendaraan yang
sedang ia kemudikan secara baik.
Di
sini kami manfaatkan untuk foto bersama dengan latar belakang laut dan
pulau-pulau kecil di sekitar pantai sari ringgung. Waktu memang terasa begitu
singkat, rasanya belum puas kami berada di Puncak Indah, tapi keadaan membuat
kami harus sesegera mungkin meninggalkan tempat yang indah ini, turun dan
pulang menuju Bandar Lampung.
Mengingat
masih ada satu agenda lagi yang harus kami lakukakan dan termasuk sangat
penting, mencari ole-ole khas lampung. Saya sendiri sebenarnya sudah membeli
ole-ole pada minggu malam bersama rombongan FLP Ogan Ilir sebab mereka sudah
harus duluan pulang menggunakan kereta pagi pada hari senin.
Tapi
kawan-kawan penumpang saya belum membeli ole-ole jadi sebelum ke penginapan
kami memutuskan untuk mencari ole-ole. Sempat terjadi perdebatan untuk membeli
ole-ole, ada yang ingin membeli ole-ole ke daerah PU (tempat semalam saya
membeli ole-ole bersama rombongan FLP Ogan Ilir) ada yang ingin ke pusat
ole-ole di daerah teluk betung.
Akhirnya
kami kemisahkan diri ke pusat ole-ole di teluk betung sementara satu mobil lagi
ke daerah PU. Ada beberapa alasan kenapa kami memilih ke teluk betung, karena
harganya lebih murah dan lebih dekat. Sementara alasan kawan yang lain ke PU
adalah keripik pisangnya lebih fresh.
Lampung
memang terkenal dengan ole-ole khasnya berupa keripik pisang aneka rasa.
Menurut saya pribadi ketika mendatangi kedua tempat ole-ole tersebut pusat
ole-ole di daerah PU memang kelihatan lebih fresh dengan aneka rasa keripik
lebih lengkap dari pada di teluk betung
walaupun harganya sedikit lebih mahal 25.00/ 250 gram keripik pisang aneka
rasa, tapi di teluk betung pilihan keripiknya lebih sedikit bahkan habis.
Pukul
18.00 kami sampai di penginapan, saya
dan kawan dari Prabumulih memutuskan untuk sholat magrib di jamak isya di
penginapan sebelum berangkat ke stasiun tanjung karang.




Oiya Ka, sepertinya ada beberapa kesalahan penulisan (typo), pemakaian huruf kapital di nama pantainya juga kurang konsisten, Ka. 🙏